Perempuan Terbaik
Publikasi: 01/04/2005 08:46 WIB
Wahai bunda
hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu erana Tuhan saja yang tahu penderitaanmu
(Nasyid dari Nowseeheart)
hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu erana Tuhan saja yang tahu penderitaanmu
(Nasyid dari Nowseeheart)
eramuslim - Saat itu saya masih empat belas tahun.
Untuk pertama kalinya, saya harus berpisah 'jauh' dengannya, perempuan terbaik
yang pernah kenal. Tatkala tangan-tangan itu melambai, rasa bersalah
berdentam-dentam di rongga dada. Ugghhh... kenapa saya tega meninggalkannya
sejauh itu. Belum terbayang, kapan lagi saya akan kembali bertemu dengannya.
Sebelum
perpisahan jarak 'jauh' itu, jarang sekali bunda enggan memberi izin, bila saya
minta izin bepergian. Suatu ketika, saya pamit untuk pergi camping,
mengikuti kemah pramuka Sabtu-Minggu di dekat gua stalagnit di kampung kami.
Untuk pamitan dua hari itu pun, izinnya didapat dengan alot sekali.
"Hati-hati ya nak... jangan merusak alam, jangan
berbuat macam-macam hati-hati... jangan..."
Berkali-kali
nasehat itu diperdengarkan, risau sekali beliau akan keselamatan puteranya.
Padahal, namanya juga acara anak SD, camping perkemahan Sabtu-Minggu itu
di back-up puluhan guru pembina. Jumlah guru yang menyertai camping
hampir sama banyak dengan jumlah murid, sebagai bukti keseriusan pihak sekolah
untuk menjamin keselamatan kami. Tapi, namanya bunda, ia tetap saja penuh
kekhawatiran pada keselamatan anaknya. Raut wajahnya tampak sangat mencemaskan
puteranya yang berkeras untuk tetap pergi.
***
Tak
lama berselang setelah perpisahan 'Sabtu-Minggu' itu, perpisahan 'jauh'
benar-benar terjadi. Kali itu bukan camping di pinggir kecamatan. Tapi
saya harus terbang menyeberangi lautan. Untuk melanjutkan studi ke sekolah
dambaan. Tak terbayangkan bagaimana perasaan bunda melepas bocah kecilnya
sejauh itu.
Satu
tahun berselang, di sebuah libur panjang sekolah, saya kembali bertemu bunda.
Sejuk wajahnya dan binar ketulusannya masih sama. Pehatian dan kasih sayangnya
pun belum berubah. Cuma mungkin penampilannya sedikit berubah. Kilau perak
mulai terselip di rambutnya.
Sejak
saat itu, dengan dalih cita-cita, berulang kali saya meninggalkanya. Berulang
kali beliau harus membekap kerinduan, memasung rasa kasih pada buah hatinya.
Pada saat saya tergelak tertawa dengan konco sekodan, mungkin bunda
sedang tenggelam dalam isak tangis kerinduannya. Saya sendiri, bukan tidak
rindu padanya, warung bubur kacang ijo gang Masjid mungkin pelampiasan paling
manjur, kalau rasa kangen padanya sedang meradang. Maklum setiap libur sekolah
bunda selalu setia menanti dengan bubur ijo kesukaan puteranya. Jauh hari
sebelum puteranya datang, berkilo-kilo kacang ijo sudah dipesannya untuk putera
tersayang, yang belum jelas tanggal kedatangannya.
Saat
melihat ibu-ibu lanjut yang berjalan sendiri di keramaian pasar, ingin rasanya
menyapa mereka, mengajak bersenda-gurau, sambil berharap bunda juga
diperlakukan ramah pula oleh lingkungannya. Kala menjumpai nenek yang beringsut
membawa belanjaannya, terketuk keinginan untuk menawarkan bantuan, karena
terbayang bunda yang tertatih-tatih dengan bebannya. Jika sudah mengkhayal
begini, pertanda kerinduan padanya telah mengkristal. Cuma doa yang mampu
dirangkum saat itu, semoga Allah Yang Menguasai langit dan bumi, menjaga dan menyayangi
bunda.
Bila
melihat pertikaian di tengah kampung kami, berbicang dengan bunda adalah solusi
terbaik.
"Jangan pikirkan apa pelakuan orang yang
mendzalimi kita, pikir saja kekhilafan kita, coba memperbaiki diri, jangan
menghiraukan kata-kata sampah yang datang dari kaum jahil, persekongkolan para
pendengki para itu sudah jelas sejak perang Khandaq. Belajarlah untuk menjadi
hamba yang tulus, yang tak terganggu dengan perlakuan manusia, tapi niat
karena-Nya harus benar, jangan pernah berharap pada makhluk."
Plong.
Kepala yang tadinya cekot-cekot sepulang melihat perseteruan di balai desa
langsung terobati.
Berbicara
tentang ketulusan, ketulusan seorang ibu mungkin nomor satu. Saat bayi lemah
tanpa gelar kesarjanaan itu lahir, dengan penuh khidmat, kasih sayangnya
mengalir lancar tanpa pamrih. Menabur benih kebaikan kepada makhluk yang 'bukan
siapa-siapa' memang aneh di era kapitalisme ini. Tapi itulah bunda, yang tak
melihat apa yang akan didapatnya dengan membesarkan kami. Memperoleh senyum
manis kerabat saat kenduri tetangga mungkin sudah lumrah, tapi mendapatkan
perhatian penuh kasih bunda saat demam meradang menjelang subuh, itu baru luar
biasa.
***
Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu berkata: Seseorang
datang kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dan bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu"
Kemudian tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau mejawab, "Bapakmu."
(Muttafaq 'alaih).
"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu"
Kemudian tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau mejawab, "Bapakmu."
(Muttafaq 'alaih).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar