Membujuk Pasangan yang Sedang Merajuk
Publikasi: 08/12/2004 15:09 WIB
eramuslim - Pernahkah anda menghadapi pasangan yang
sedang merajuk (ngambek)? Barangkali sering, atau kadang-kadang pasangan kita
merajuk. Bila suami atau istri sedang merajuk, situasi menjadi tidak nyaman.
Ngobrol terasa tidak enak dengan orang yang hanya diam, mulut yang bungkam,
bahkan bibirnya mengerucut, atau dipunggungi di tempat tidur.
Seperti
yang terjadi pada pasangan Yusuf dan Aisyah. Sudah sejak tadi pagi mereka tidak
saling bicara. Percakapan yang terjadi di antara mereka hanya sebatas
kalimat-kalimat pendek. Panggilan-panggilan sayang seperti,
"Yang...", "Si Ayah lucu" atau "Ibuku tercayang",
tidak lagi terdengar. Anak juga ikut bingung, kedua orang tua mereka sering
menyuruh untuk saling menyampaikan pesan. "Hanif, bilang sama ayah, kalau
korannya sudah selesai dibaca, ibu mau pinjam," kata Aisyah.
Yusuf
mencolek putrinya kemudian berbisik, "Asma tolong tanyakan pada ibu di
mana kemeja ayah yang warna biru?" Banyak urusan jadi macet karena sang
kurir yang membawa pesan tidak selalu dapat diandalkan. Ayah dan ibu yang
sedang bermasalah, anak-anak yang menjadi korban. Kekusutan yang menyebabkan
perang dingin itu tidak segera dapat diurai. Padahal mereka ngambek hanya
gara-gara berdebat ke mana mereka akan berkunjung di akhir pekan.Yusuf ingin
menjenguk ibunya, sedangkan Aisyah tetap ngotot ingin mengajak anak-anak
berenang ke pantai. Padahal baik Yusuf maupun Aisyah sudah saling memaham
karakter masing-masing.
Pernikahan
mereka yang sudah berjalan sekian tahun, sudah cukup memberikan mereka waktu
dan kesempatan untuk saling mengenal sifat masing-masing. Namun egolah yang
membuat mereka untuk tidak segera berbaikan. Kasus pasangan yang merajuk ini
sebenarnya bisa dialami oleh pasangan manapun di dunia. Merajuk bisa dijadikan
salah satu cara untuk mengekspresikan perasaan terhadap pasangan. Namun si
perajuk seringkali tidak memperlihat ekspresi wajah yang sesungguhnya.
Gejala
yang mudah dikenali adalah si perajuk selalu menghindari segala macam kontak.
Jangankan sentuhan, berada pada satu ruangan saling bertegur sapa pun menjadi
hal yang sangat dipaksakan. Repotnya kita tidak pernah tau apa yang menjadi
penyebabnya. Seringkali kita harus menebak-nebak apakah gerangan yang terjadi?
Merajuk
bisa disebabkan oleh apa saja, mulai dari masalah sepele sampai masalah yang
besar bisa menjadi alasan. Merajuk tidak sama dengan stonewalling, suatu
sikap mengabaikan semua pesan yang disampaikan oleh lawan bicara. Hal ini
terjadi ketika seseorang merasa lelah bertengkar, ia menjadi defensif, bahkan
sama sekali tidak bereaksi baik secara emosi maupun verbal terhadap lawan
bicara. Sikap membatu seperti ini melambangkan pembangkangan, ketidaksetujuan,
dingin dan ketidakpuasan. Pada umumnya laki-laki tidak terlalu tergugah secara
psikologi menghadapi seorang stonewalling, namun seorang istri menjadi
sangat dramatis dan sedih menghadapi suami yang demikian. Dalam kondisi stonewalling
komunikasi sangat sulit dibangun.
Seorang
yang sedang merajuk sangat sulit untuk diajak bicara dengan rasional. Kondisi
ini tidak selalu bisa diperkirakan akan berlangsung berapa lama. Segi negatif
dari merajuk adalah terputusnya kominikasi. Jika tidak diselesaikan dengan
bijak, aksi merajuk ini bisa berlanjut menjadi perang dingin dan mengganggu
keharmonisan rumah tangga. Jadi usahakan untuk segera mengakhiri aksi merajuk
pasangan anda.
Tips menghadapi pasangan yang merajuk :
1.
Menahan harga diri dan gengsi, tidak berguna sama sekali, sehingga tidak perlu
segan untuk mengajukan tawaran berdamai lebih dahulu. Prinsipnya adalah
berlomba-lomba dalam kebaikan.
2.
Lupakan sejenak perdebatan tentang siapa yang salah. Ingat mundur selangkah
bukan berarti kalah.
3.
Lakukan pendekatan dengan taktis dan sabar, karena orang yang sedang merajuk
memiliki kecenderungan emosional.
4.
Pergunakan jurus-jurus rayuan yang dapat meluluhkan hatinya, bila perlu berikan
hadiah dan belaian sayang.
5.
Saat si perajuk mulai membuka diri, coba tanyakan apa yang membuatnya marah,
namun jangan menginterogasi.
6.
Cobalah untuk mengetahui apa yang yang mengusik perasaannya dan pahamilah.
7.
Berikan dorongan pada pasangan anda untuk mengungkapkan isi hatinya, katakan
anda akan merasa lebih baik jika mengetahui perasaannya.
8.
Jadilah pendengar yang baik. Singkirkan dulu keinginan untuk berkomentar, ini
saatnya untuk gencatan senjata atau justru mengalah.
9.
Berbaikan, adalah akhir dari suatu pertengkaran. Dan pada keduanya akan timbul
rasa saling menyayangi, saling memaafkan, saling melupakan, saling mentertawakan
kekonyolan yang terjadi dan kembali mesra.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Safina nomor 2
tahun 1, April 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar